Selasa, 05 April 2011

PEMETAAN BISNIS PROSES KEDALAM DESAIN AWAL SISTEM INFORMASI 3

Proses Terapi
Kasus 3: seorang perempuan berusia 20 tahun mendatangi seorang terapi, dia memiliki masalah dengan kehidupannya, dia mengalami kesulitan dalam mengungkapkan hal-hal yang mungkin kurang berkenan dihatinya kepada orang lain. Ia mengalami ketakutan dalam mengungkapkan pendapat ketidak setujuannya kepada orang lain, ia mengalami kesulitan untuk mengatakan “tidak” dan merasa sulit untuk menolak permintaan orang lain, ia merasa tidak berani karena ia beranggapan penolakkannya akan membuat orang lain menjauhinya. Ia merasa tidak enak untuk menolak dan selalu ia menuruti apa yang dikatakan orang padahal hal tersebut tidak sama sekali sejalan dengan keinginan dan harapannya, ia ingin sekali mengungkapkan hal yang sesuai dengan apa yang ia inginkan ingin sekali menegaskan dirinya, namun ia merasa kesulitan untuk mengungkapkanya karena menurutnya menegaskan diri adalah hal yang dapat membahayakan dirinya dipergaulannya.

Rapport
• Menanyakan hal yang bersifat umum.
• Memecah kekakuan.
• Membuat klien nyaman dengan terapis.
• Menanyakan kabar klien.

Wawancara Awal
• Menanyakan latar belakang klien dan riwayat hidup klien.
• Menanykan penyebab awal phobia.
• Masalah-masalah yang ditimbulkan akibat phobia.
• Harapan subjek terhadap phobianya
Alat yang diperlukan:
• Alat tulis
• Recorder
• Formasi tempat duduk yang nyaman
• Suasana ruangan yang kondusif



Menentukan terapi yang tepat
Terapi Asertif: Terapi yang digunakan untuk individu diamana individu tersebut mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menegaskan diri merupakan tindakan yang benar dan layak.

Kontrak
Memberikan informasi kepada klien mengenai proses terapi yang akan dijalani, menjelaskan mengenai apa yang dilakukan selama terapi, tujuan dari proses terapi, harapan, kapan,dimana, lamanya, keterbatasan dalam proses terapi, kemudian diberikan semacam formulir persetujuan dari klien untuk diterapi, formulir ini ditandatangani oleh terapis dan klien.
Alat yang diperlukan:
• Surat kontrak
• Alat tulis
• Materai

Pelaksanaan terapi
Terapi ini dilakukan dengan bermain peran antara terapis dan kliennya, dimana sang terapis berperan sebagai seseorang yang memerintah klien untuk melakukan sesuatu padahal sang klien tidak ingin melakukannya. Sang terapis bertindak atau berperan sebagai seorang atasan atau teman klien yang klien takuti untuk membantahnya padahal dengan menurutinya klien merasa tidak nyaman dengan dirinya, klien diminta oleh terapis untuk menolak dengan halus apa yang diinginkan oleh orang tersebut, dan sang terapis memberi umpan balik kepada klien mengenai konsekuensi apa yang akan klien alami jika klien terus menerus menurutinya tanpa berani menolak, kemudian tahapan pun naik, dimana sang terapis menyuruh klien dengan memaksanya, disinilah kilen diminta untuk berani menegaskan diri dengan apa yang menurutnya tidak baik dan tidak klien inginkan. Disinilah sang terapis akan memberitahu kepada klien apa akibatnya jika klien terus menuruti hal-hal yang padahal salah.



Alat yang diperlukan:
• Sebuah ruangan untuk bermain peran
• Rekaman
• Alat tulis
• Kertas

Controling
Mengontrol terapi yang dilakukan, melihat keberanian klien sampai dimana tahap klien berani menegaskan diri.

Evaluasi
Melakukan kroscek dan koreksi dari hasil wawancara awal dengan mencocokannya dengan hasil yang telah dicapai klien dalam proses terapi. Dalam hal ini dilakukan review kembali mengenai apa yang subjek harapkan dan apa yang telah subjek capai dalam terapi ini.
Alat yang diperlukan:
• Rekaman wawancara awal.
• Rekaman proses terapi.

Controling post terapi
Hasil dari terapi:
• Klien berhenti sebelum terapi usai
• Klien mampu menegaskan diri dan berani menolak
• Klien hanya berani menolak namun tidak memberikan argumentasi
• Klien masih tidak berani menyatakan diri.
Alat yang digunakan
• Rekaman proses dan hasil terapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar