Selasa, 05 April 2011

Penerapan Teknologi dalam Bidang Psikologi

Penerapan Teknologi dalam Bidang Psikologi
Teknologi kini bukan hanya sebatas pada dunia cyber saja, atau dunia komputer saja, teknologi kini telah berkembang pesat dan telah merambah ke berbagai bidang disiplin ilmu lainnya. Teknologi informasi kini telah dikenal dengan luas, dan ternyata keberadaannya dapat dikaitkan dengan berbagai disiplin ilmu. Teknologi kini telah dikenal secra umum dan telah dikenal secara luas, berbagai bidang ilmu telah menggunakan aplikasi dari Teknologi Informasi guna mengembangkan ilmu-ilmu yang berkaitan.
Salah satu disiplin ilmu yang menggunakan Teknologi Informasi adalah Psikologi. Memang antara Psikologi dan Informasi Teknologi memiliki kajian objek teoritis dan aspek yang berbeda mengenai hal apa yang menjadi objek ilmu mereka, namun dalam beberapa hal keberadaan Teknologi Informasi bisa menjadi suatu ilmu yang membantu dalam upaya pengembangan ilmu dan pemaksimalan dalam aplikasi ilmu Psikologi.
E-Counseling merupakan salah satu bentuk nyata aplikasi Teknologi Informasi dalam bidang Psikologi. Internet menawarkan suatu proses psikoterapis yang menggunakan suatu media komunikasi yang baru, dimana melalui media tersebut mereka dapat memberikan intervensi psikoterapi itulah yang disebut dengan E-counseling atau e-mail counseling. E-mail conseling merupakan pelayanan intervensi psikologi yang dilakukan melaui Internet, dimana proses terapi terlebih dahulu dilakukan melaui media ini, untuk kemudian menyususn rencana dalam melakukan intervensi psikologi secara face-to-face akan dilakukan. Fungsi dari e-counseling adalah untuk membantu terapis dalam mengumpulkan sejumlah data yang terkait dengan kliennya sebelum akhirnya terapis dan klien sepakat untuk bertemu secara langsung untuk melakukan proses terapis selanjutnya. Dalam aplikasinya, psikoterapi online menawarkan tantangan etika baru bagi mereka para terapis yang tertarik untuk menggunakan media ini dalam memberika pelayanan psikologi. Perbedaan antara komunikasi berbasis teks interaktif dan komunikasi verbal in-person menciptakan tantangan etika baru yang sebelumnya tidak di temui dalam terapi face-to-face (secara langsung) (http://www.jmir.org).
Bentuk lain dari penerapan teknologi dalam psikologi adalah program SPSS. Program ini memang dibuat untuk membantu berbagai bidang ilmu dalam mempermudah pengembangan ilmu tersebut. Psikologi pun menggunakan aplikasi ini dalam membantu mengolah data. Data yang bisa diaplikasikan dalam SPSS adalah data secara kuantitatif. Aplikasi SPSS sangat membantu bidang psikologi ketika seseorang sedang melakukan penelitian di bidang psikologi dengan metode kuantitatif. Dalam penelitian jumleh subjek yang dibutuhkan tidaklah sedikit, karena untuk memperoleh hasil yang akurat memerlukan cukup banyak subjek sebagai respondennya. Disinilah peranan SPSS sangat dibutuhkan, data yang telah diperoleh untuk diolah bukanlah data yang sedikit dan sangat melebihi daya tampung manusia jika pengolahan tersebut harus dilakukan secara manual, akan terjadi kelelahan, hasil yang tidak akurat, dan akan sangat membuang energi dalam pelaksanaanya, dengan aplikasi SPSS lah berbagai masalah yang muncul jika di olah secra manual dapat teratasi.

PEMETAAN BISNIS PROSES KEDALAM DESAIN AWAL SISTEM INFORMASI 3

Proses Terapi
Kasus 3: seorang perempuan berusia 20 tahun mendatangi seorang terapi, dia memiliki masalah dengan kehidupannya, dia mengalami kesulitan dalam mengungkapkan hal-hal yang mungkin kurang berkenan dihatinya kepada orang lain. Ia mengalami ketakutan dalam mengungkapkan pendapat ketidak setujuannya kepada orang lain, ia mengalami kesulitan untuk mengatakan “tidak” dan merasa sulit untuk menolak permintaan orang lain, ia merasa tidak berani karena ia beranggapan penolakkannya akan membuat orang lain menjauhinya. Ia merasa tidak enak untuk menolak dan selalu ia menuruti apa yang dikatakan orang padahal hal tersebut tidak sama sekali sejalan dengan keinginan dan harapannya, ia ingin sekali mengungkapkan hal yang sesuai dengan apa yang ia inginkan ingin sekali menegaskan dirinya, namun ia merasa kesulitan untuk mengungkapkanya karena menurutnya menegaskan diri adalah hal yang dapat membahayakan dirinya dipergaulannya.

Rapport
• Menanyakan hal yang bersifat umum.
• Memecah kekakuan.
• Membuat klien nyaman dengan terapis.
• Menanyakan kabar klien.

Wawancara Awal
• Menanyakan latar belakang klien dan riwayat hidup klien.
• Menanykan penyebab awal phobia.
• Masalah-masalah yang ditimbulkan akibat phobia.
• Harapan subjek terhadap phobianya
Alat yang diperlukan:
• Alat tulis
• Recorder
• Formasi tempat duduk yang nyaman
• Suasana ruangan yang kondusif



Menentukan terapi yang tepat
Terapi Asertif: Terapi yang digunakan untuk individu diamana individu tersebut mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menegaskan diri merupakan tindakan yang benar dan layak.

Kontrak
Memberikan informasi kepada klien mengenai proses terapi yang akan dijalani, menjelaskan mengenai apa yang dilakukan selama terapi, tujuan dari proses terapi, harapan, kapan,dimana, lamanya, keterbatasan dalam proses terapi, kemudian diberikan semacam formulir persetujuan dari klien untuk diterapi, formulir ini ditandatangani oleh terapis dan klien.
Alat yang diperlukan:
• Surat kontrak
• Alat tulis
• Materai

Pelaksanaan terapi
Terapi ini dilakukan dengan bermain peran antara terapis dan kliennya, dimana sang terapis berperan sebagai seseorang yang memerintah klien untuk melakukan sesuatu padahal sang klien tidak ingin melakukannya. Sang terapis bertindak atau berperan sebagai seorang atasan atau teman klien yang klien takuti untuk membantahnya padahal dengan menurutinya klien merasa tidak nyaman dengan dirinya, klien diminta oleh terapis untuk menolak dengan halus apa yang diinginkan oleh orang tersebut, dan sang terapis memberi umpan balik kepada klien mengenai konsekuensi apa yang akan klien alami jika klien terus menerus menurutinya tanpa berani menolak, kemudian tahapan pun naik, dimana sang terapis menyuruh klien dengan memaksanya, disinilah kilen diminta untuk berani menegaskan diri dengan apa yang menurutnya tidak baik dan tidak klien inginkan. Disinilah sang terapis akan memberitahu kepada klien apa akibatnya jika klien terus menuruti hal-hal yang padahal salah.



Alat yang diperlukan:
• Sebuah ruangan untuk bermain peran
• Rekaman
• Alat tulis
• Kertas

Controling
Mengontrol terapi yang dilakukan, melihat keberanian klien sampai dimana tahap klien berani menegaskan diri.

Evaluasi
Melakukan kroscek dan koreksi dari hasil wawancara awal dengan mencocokannya dengan hasil yang telah dicapai klien dalam proses terapi. Dalam hal ini dilakukan review kembali mengenai apa yang subjek harapkan dan apa yang telah subjek capai dalam terapi ini.
Alat yang diperlukan:
• Rekaman wawancara awal.
• Rekaman proses terapi.

Controling post terapi
Hasil dari terapi:
• Klien berhenti sebelum terapi usai
• Klien mampu menegaskan diri dan berani menolak
• Klien hanya berani menolak namun tidak memberikan argumentasi
• Klien masih tidak berani menyatakan diri.
Alat yang digunakan
• Rekaman proses dan hasil terapi.

PEMETAAN BISNIS PROSES PSIKOTERAPI KE DALAM DESAIN AWAL SISTEM INFORMASI 2

Proses Terapi
Kasus 2 : Subjek datang kepada terapis karena memiliki phobia terhadap ular.

Rapport
• Menanyakan hal yang bersifat umum.
• Memecah kekakuan.
• Membuat klien nyaman dengan terapis.
• Menanyakan kabar klien.

Wawancara Awal
• Menanyakan latar belakang klien dan riwayat hidup klien.
• Menanykan penyebab awal phobia.
• Masalah-masalah yang ditimbulkan akibat phobia.
• Harapan subjek terhadap phobianya
Alat yang diperlukan:
• Alat tulis
• Recorder
• Formasi tempat duduk yang nyaman
• Suasana ruangan yang kondusif

Menentukan terapi yang tepat
Terapi Desensitisasi sistematik: Sebuah terapi dimana, subjek diminta membayangkan stimulus-stimulus yang memproduksi rasa takut, selama membayangkan tersebut subjek diminta melakukan relaksasi untuk mengontrol dan menguasai rasa takutnya.

Kontrak
Memberikan informasi kepada klien mengenai proses terapi yang akan dijalani, menjelaskan mengenai apa yang dilakukan selama terapi, tujuan dari proses terapi, harapan, kapan,dimana, lamanya, keterbatasan dalam proses terapi, kemudian diberikan semacam formulir persetujuan dari klien untuk diterapi, formulir ini ditandatangani oleh terapis dan klien.
Alat yang diperlukan:
• Surat kontrak
• Alat tulis
• Materai




Pelaksanaan terapi
• Klien diminta untuk berbaring atau duduk dengan santai.
• Subjek diminta melakukan relaksasi sambil membayangkan ular berjarak 25 meter dari dia.
• Setelah subjek dinilai mampu menjaga relaksasi terapis memintanya untuk membayangkan ular dari jarak 20 meter.
• Jika subjek masih dapat menjaga rileksasinya maka ia terus diminta untuk memperpendek jarak hingga berani menyentuh walaupun hanya melalui bayangan.
Alat yang diperlukan:
• Tempat duduk atau tempat berbaring yang nyaman
• Rekaman
• Alat tulis
• Kertas

Controling
Mengontrol terapi yang dilakukan, membiarkan klien untuk melakukan relaksasi dan untuk menenangkan diri. Dan klien mampu mengontrol rasa takutnya dan dilihat kemampuan klien dalam mengontrol sampai pada tingkat phobia tertentu.

Evaluasi
Melakukan kroscek dan koreksi dari hasil wawancara awal dengan mencocokannya dengan hasil yang telah dicapai klien dalam proses terapi. Dalam hal ini dilakukan review kembali mengenai apa yang subjek harapkan dan apa yang telah subjek capai dalam terapi ini.
Alat yang diperlukan:
• Rekaman wawancara awal.
• Rekaman proses terapi.




Controling post terapi
Hasil dari terapi:
• Klien berhenti sebelum terapi usai
• Klien mampu memegang ular
• Klien berani melihat secara dekat namun tidak berani memegang.
• Klien berani melihat hanya dari jarak jauh.
• Klien masih tetap phobia terhadap ular.
Alat yang digunakan
• Rekaman proses dan hasil terapi.

PEMETAAN BISNIS PROSES PSIKOTERAPI KE DALAM DESAIN AWAL SISTEM INFORMASI 1



Proses Terapi
Kasus 1: Subjek datang kepada terapis karena memiliki phobia terhadap ulat.

Rapport
·         Menanyakan hal yang bersifat umum.
·         Memecah kekakuan.
·         Membuat klien nyaman dengan terapis.
·         Menanyakan kabar klien.

Wawancara Awal
·         Menanyakan latar belakang klien dan riwayat hidup klien.
·         Menanykan penyebab awal phobia.
·         Masalah-masalah yang ditimbulkan akibat phobia.
·         Harapan subjek terhadap phobianya
Alat yang diperlukan:
·         Alat tulis
·         Recorder
·         Formasi tempat duduk yang nyaman
·         Suasana ruangan yang kondusif

Menentukan terapi yang tepat
Terapi Implosive : Pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa penguatan. Terapi ini disebut dengan terapi pembanjiran, yaitu dengan memberikan objek secara terus menerus dengan tujuan klien lelah meresponnya dan bisa mengurangi tingkan phobianya.

Kontrak
Memberikan informasi kepada klien mengenai proses terapi yang akan dijalani, menjelaskan mengenai apa yang dilakukan selama terapi, tujuan dari proses terapi, harapan, kapan,dimana, lamanya, keterbatasan dalam proses terapi, kemudian diberikan semacam formulir persetujuan dari klien untuk diterapi, formulir ini ditandatangani oleh terapis dan klien.
     
Alat yang diperlukan:
·         Surat kontrak
·         Alat tulis
·         Materai

Pelaksanaan terapi
Disebuah ruangan klien diberikan terus menerus objek yang membuat dia phobia. Pemberian objek phobia tidak dilakukan secara bertahap, melainkan diberikan secara terus menerus objek yang nyata, sampai klien merasa lelah untuk merespon ketakutannya.
            Alat yang diperlukan:
·         Ulat sesungguhnya.
·         Rekaman
·         Alat tulis
·         Kertas

Controling
Mengontrol terapi yang dilakukan, membiarkan klien untuk melakukan relaksasidan untuk menenangkan diri. Dan klien mampu mengontrol rasa takutnya dan dilihat kemampuan klien dalam mengontrol sampai pada tingkat phobia tertentu.

Evaluasi
Melakukan kroscek dan koreksi dari hasil wawancara awal dengan mencocokannya dengan hasil yang telah dicapai klien dalam proses terapi. Dalam hal ini dilakukan review kembali mengenai apa yang subjek harapkan dan apa yang telah subjek capai dalam terapi ini.
            Alat yang diperlukan:
·         Rekaman wawancara awal.
·         Rekaman proses terapi.



Controling post terapi
Hasil dari terapi:
·         Klien berhenti sebelum terapi usai
·         Klien mampu memegang ulat
·         Klien berani melihat secara dekat namun tidak berani memegang.
·         Klien berani melihat hany dari jarak jauh.
·         Klien masih tetap phobia terhadap ulat.
Alat yang digunakan
·         Rekaman proses dan hasil terapi.